Ironi Larangan Film Porno Aksi


Jakarta – Gencar larangan peredaran film yang umbar porno aksi terus dilakukan Majelis Ulama Indonesia. Terakhir Hantu Puncak Datang Bulan. Ironinya, meski dilarang film jenis itu tetap tayang.

MUI semakin gencar melarang film-film yang dianggap mengumbar cerita dan gambar porno aksi. Terakhir melarang Suster Keramas, kini giliran Hantu Puncak Datang Bulan dilayar edar di seluruh bioskop Indonesia.

Larangan MUI itu jelas membuat President Director K2K, Keke Dheraaj sang pembuat film Hantu Puncak Datang Bulan berbicara.

“Mengenai hal itu kita sudah mendengar, dan pihak K2K Production sudah menerima surat pencekalan dari pihak MUI. Padahal film Hantu Puncak Datang Bulan akan tayang dua hari lagi di bioskop. Tetapi apakah tetap boleh ditayangkan atau tidak kita masih menunggu kepastian,” ungkap Keke Dheraaj, di Jakarta, Selasa (2/2).

Atas pencekalan ini K2K Production akan membicarakan ulang filmnya dengan pihak Lembaga Sendor Film (LSF). Keke mengatakan, “Saya akan membicarakan secara ulang dengan pihak lembaga sensor film, sebab film ini kan sudah lulus sensor, lalu kenapa harus dicekal?”

Untuk itu, K2K berusaha tetap bersabar. “Kita akan tunggu kepastiannya, saya sedih dan saya pusing apalagi sudah mengeluarkan budjet besar untuk film tersebut,” pungkasnya tanpa mau membicarakan berapa uang yang sudah diinvestasikan untuk film yang dibintangi Andi Soraya ini.

Film Hantu Puncak Datang Bulan ini kena cekal MUI karena ceritanya banyak mengumbar hal-hal berbau kemaksiatan. Contohnya, seperti adegan ciuman dan kemesraan di ranjang.

Tentang pencekalan yang seperi ini, bukan hal baru di Indonesia. Jauh sebelumnya, banyak film-film yang dianggap mengumbar porno aksi dilarang peredarannya.

Sebut saja film Suster Keramas yang diproduksi Maxima Pictures pun sempat mendapatkan perlakuan yang sama, dicekal penayangannya oleh MUI.

“Film ini berbau porno. Dalam masalah pornografi dan pornoaksi, sikap MUI sudah sangat tegas dan jelas mengharamkannya, sesuai dengan fatwa MUI tahun 2000 tentang pornografi dan pornoaksi. Film ini haram untuk ditonton. Film ini harus ditarik dari peredaran,” ujar Sekretaris Komisi Fatwa MUI Pusat Aminudin Yakub.

Aminudin khawatir jika film itu tetap diputar, dapat merusak akhlak umat Islam. Ia prihatin dengan keberadaan Maxima Pictures yang kerap memproduksi film porno. Yang terakhir Maxima memproduksi film berbau porno berjudul Air Terjun Pengantin.

MUI menilai, sikap Maxima yang tak mengambil pelajaran atas kasus sebelum ini seolah ingin menantang umat Islam.

“Maxima sedang memancing dan menantang kemarahan umat Islam dengan film-film porno mereka. Mereka (Maxima-red) sangat tidak menghormati norma dan etika sosial,” jelas Aminudin.

Ia juga menilai sikap dan tindakan pemerintah Indonesia yang terkesan lembek dalam memberantas media-media pornografi. Padahal Indonesia merupakan negara terbesar berpenduduk Muslim. Ia mencontohkan sikap yang ditunjukan pemerintah China. Meski bukan negara Muslim, China sanggup menindak 50.000 warganya yang mengakses pornografi.

“Mengapa kita dengan penduduk Muslim terbesar di dunia malah membiarkan, bahkan memproduksi pornografi,” kata Aminudin.

Pastinya, film Suster Keramas yang dibintangi Rin Sakuragi itu dilarang karena mengumbar adegan vulgar. Salah satunya Rin berakting tanpa sehelai benang pun.

Jauh sebelum adanya pelarangan pemutaran Hantu Puncak Datang Bulan dan Suster Keramas, film Paku Kuntilanak yang dibintangi Dewi Persik dengan adegan seks vulgarnya juga sempat ditentang.

Sekretaris Umum MUI Ichwan Syam menyayangkan lembaga-lembaga yang seharusnya bertanggung jawab sebagai penjaga moral bangsa, salah satunya Lembaga Sensor Film (LSF) sepertinya tidak peduli. Hal itulah yang membuat MUI mengirim surat keberatan kepada Lembaga Sensor Film dan Menteri Pariwisata dan Budaya Jero Wacik.

“Film merupakan bagian dari seni dan budaya yang memiliki pengaruh luas bagi masyarakat. Sudah seharusnya semua pembuat film memiliki tanggung jawab moral dengan membuat karya yang memiliki pengaruh positif. Bukan malah selalu membuat pembenaran atas nama seni dan kreativitas,” tuturnya.

Sayangnya, larangan MUI tentang pemutaran film-film tersebut hanya sebatas perkataan. Kenyataannya, filmnya tetap tayang di seluruh bioskop Indonesia. Kecuali Hantu Puncak Datang Bulan karena memang belum tayang. Belum lagi, film lainnya, semisal ML, Air Terjun Pengantin, dan lainnya.

Atas apa yang terjadi, pastinya film-film yang dianggap tak berkualitas dan hanya membenarkan tentang kemaksiatan justru semakin banyak tayang. Fenomena apakah ini? [inilah]

Iklan

Satu Tanggapan

  1. Yg suka melarang mungkin punya koleksi banyak tuh di rumah he he he he

    btw….mau download lagu-lagu keren.??
    masuk deh ke :

    http://thomasandrianto.wordpress.com/2010/05/11/my-favorite-songs/

    salam

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: