Misteri Hidup Mama Lauren


(inilah.com/Agus Priatna)

Jakarta -Sembilan tahun lalu, Mama Lauren beberapa kali bercerita tentang sinyal-sinyal kematiannya. Belakangan, Mama Lauren makin tekun mendalami ajaran Islam.

Deby Djenar menghela nafas panjang. Wanita yang menjadi anak angkat Mama Lauren itu bercerita bahwa Sang Mama, beberapa kali bercerita tentang sinyal kematiannya.

“Selama sembilan tahun, mama sering membicarakan sinyal-sinyal kepergiannya. Sudah takdir, kita hanya manusia biasa, semua kita serahkan sama Tuhan. Dan ketika semalam saya kaji, ini memang sudah prediksi mama. Dia sudah berfirasat, saya hanya bisa memberikan support,” kata Debby, di rumah Mama Lauren di Cipinang, Jakarta Timur, Selasa (18/5).

Ketika ditanya tentang kehidupan agama Mama Lauren, Deby mengungkapkan bahwa Mama jarang menyinggung soal agama. “Itu kan sifatnya ritual. Yang jelas Mama menghormati semua agama. Kan semua tahu, dia terakhir menggunakan ajaran agama Islam,” kata Debby.

Kehidupan Mama Lauren yang multi-nasional (dari Belanda, Belgia dan Indonesia), memang bukan cerita yang lurus-lurus saja. Mama Lauren, sempat mengalami jatuh-bangun. Bukan saja secara mental, tapi juga ekonomi.

Mama Lauren menjalani masa remaja dalam kondisi sulit. Dia tak bisa seperti umumnya remaja Eropa yang bisa berpesta dansa atau berhura-hura. Lauren muda hidup sebatang kara. Sejak usia 16 tahun, Lauren sudah harus menghidupi dirinya sendiri.

Sejak Oma Antoineta meninggal dunia, Mama Lauren dimasukkan bibinya ke sebuah asrama. Tapi, itu pun hanya berjalan seminggu. Karena keinginan besar untuk tidak tergantung pada orang, Lauren muda kabur!

Lauren memulai kemandiriannya dengan bekerja sebagai pencuci piring restoran di pagi hari. Setelah itu, dia sekolah sampai pukul 15.00 sore. Pulang, langsung kerja lagi sebagai sebagai kasir di toko sepatu hingga pukul 20.00 malam.

Prestasi di sekolahnya tidak terlalu istimewa. Tapi, Lauren tidak pernah tinggal kelas. Sampai kemudian, saat lulus dari sekolah menengah, Lauren bertemu dengan Profesor Van der Berg, seorang ahli parapsikologi dari Universitas Leuven.

Lauren akhirnya tinggal bersama sang profesor dan istrinya yang tidak punya anak. Di situ, Lauren mengenal kehidupan di Afrika dan mempelajari manfaat ramuan obat-obatan di sana. Bahkan, dari situ juga Lauren bisa belajar ilmu para-psikologi di Universitas Leuven.

Selanjutnya, Lauren pergi ke Prancis untuk belajar ilmu para-psikologi, yang pada dasarnya merupakan ilmu psikologi eksperimental. Di Eropa, saat itu hanya di perguruan tinggi di Prancis, Belanda, dan Belgia, yang memiliki jurusan para-psikologi. Lauren belajar sembari bekerja selama dua tahun di Prancis.

Ketika tiba waktunya pulang ke Leuven, Prof Van der Berg meninggal dunia. Untuk kesekian kalinya, Mama Lauren kehilangan orang yang disayangi.[inilah]

Satu Tanggapan

  1. mama smga di trma d sisi_NYA

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: