Siswa diPecat Karna Kritik Sekolah Lewat Facebook


pelajar-sma-naik-panser.jpg
tribunnews.com/ismanto

Empat siswi SMAN 2 Kota Probolinggo dipecat gara gara mengkritik sekolahnya melalui jejaring sosial facebook. Mereka (30/7) sempat mengeluhkan kejadian di sekolahnya yang hingga kini belum ditangani.

Keempat siswi SMAN 2 yang dikeluarkan dari tempatnya belajar adalah Mega Ayu Karina, Rusdiana Islamiati, Devi Rizki, dan Anisah Nurul Hidayah yang kesemuanya duduk di kelas 11 IPS. Keluhan itu antara lain kejadian hilangnya beberapa helm milik siswa,  jok motor yang disilet, bahkan sepatu yang ditaruh di musala juga dirusak (disilet).

Peristiwa yang diduga dilakukan tangan-tangan jahil siswa setempat itu sudah dilaporkan ke bagian kesiswaan. Namun, dalam statusnya, Devi menyebut tidak ada respons. Dari sanalah muncul komentar dari teman-teman Devi, yang pertama menulis di komentarnya.

“Ya Devi yang memulai. Akhirnya saya dan teman-teman lain menanggapinya,” aku Mega Ayu Karina yang diamini Roediana Islamiati.

Dalam kesempatan itu juga Arif Sulifan, paman Mega yang bertempat tinggal di RT 3/RW 3 Jalan Abdul Hamid, Gang Kebon Mendek, Kelurahan Kebonsari Kulon, Kecamatan, Kanigaran, Kota Probolinggo ini, memperlihatkan komentar Mega di facebook-nya dalam bentuk tulisan tangan di sebuah kertas yang di-upload Jumat minggu lalu, pukul 21.12 wib. Isinya, O, ia Mandar sing salah cepet matek.

Komentar Mega berikutnya, langsung ke dinas pendidikan. “Cek pak wali kog scol saiki iku g bersi. Trs ap gunane ad guru piket, ada satpam, leg g ad tanggung jawabe. Jog wedi di tokno rek. Qt t gak salah, tenang wis. Masio anake jendral sing sugeh dewe, ojog belagu…..Cz sik ono sing lebih sugeh, percaya etz. Freedom to girl ok ????

Di status itu, mereka berkomentar bebas dengan gaya bahasa anak remaja. Intinya mereka kecewa terhadap pihak sekolah. Namun, mereka tidak berpikir, apa yang mereka curahkan akan berdampak pada diri mereka sendiri. Disebutkan, dalam percakapan itu ada beberapa ungkapan kasar. Seperti “sekolah tak brtanggung jawaB + keparatt !” ada pula ungkapan “gobLOk soro!”.

Status dan komentar mereka ternyata berbuntut panjang, bahkan pihak SMAN 2 naik pitam. Sehingga lembaga sekolah tersebut men-DO keempat muridnya yang turut berkomentar dalam percakapan di Facebook tersebut.

Mohamad Zaini, Wakil kepala sekolah bidang humas, membantah jika dituding telah memberhentikan empat muridnya. “Bukan memberhentikan, tapi sekolah mengembalikan mereka ke orangtuanya. Dalam hal ini, kami tidak diam kok. Kami masih membantu mencarikan sekolah,”  ucap Zaini ditulis surya.co.id, Sabtu (7/8/2010).

Secara terpisah, Wawan Koeswandoro, Ketua Dewan Pendidikan Kota Probolinggo berharap, seharusnya pihak SMAN 2 tidak terburu-buru menyikapi kejadian ini dengan memberhentikan murid yang dianggap salah.

“Sekolah itu kan sebuah lembaga pembinaan. Mestinya mereka dibina dulu. Jangan ujuk-ujuk mengambil sikap yang merugikan siswa dan wali murid,” kata Wawan

Kasus serupa pernah terjadi di Tanjungpinang, ada siswa yang dikeluarkan garagara internet. Namun setelah diadakan dialog akhirnya kembali diizinkan masuk sekolah

Iklan
%d blogger menyukai ini: