Ketaatan Dalam Islam

Ketaatan Dalam Islam

(Mengambil Ibrah dari Kasus Ajinomoto)

Rasul shallallahu alaihi wa sallam bersabda :

“Sesungguhnya yang halal itu jelas, dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara yang syubhat, barangsiapa yang meninggalkan perkara yang syubhat maka telah menjaga diri dan agamanya. Dan barangsiapa yang terjerumus dalam syubhat maka telah terjerumus dalam keharaman…”

Selanjutnya menjadi sebuah hal yang telah dimaklumi bahwa hak membuat syariat adalah mutlak milik Allah dan Rasulnya. Apa yang ditetapkan oleh Allah itulah syariat. Dan apa yang ditetapkan Rasulnya itupun syariat yang tidak dapat diganggu gugat.

Hukum yang berkaitan dengan halal dan haram seluruhnya mutlak milik Allah ta’ala semata, yang telah dijelaskan dengan gamblang di dalam al Quran dan al Hadits. Dan pada hukum ini tidak ada kontribusi seorang manusia untuk ikut mencampuri syariat ini. Segala yang telah dihukumkan halal oleh Allah dan RasulNya akan tetap halal sampai hari kiamat. Dan apapun yang telah dinyatakan haram di dalam syariat maka akan tetap haram di dalam syariat.Diantaranya adalah firman Allah

“Diharamkan bagimu bangkai, darah, daging babai , daging yang disembelih atas nama selain Allah, yang tercekik yang ditanduk, dan yang diterkam binatang buas kecuali yang sempat kamu menyembelihnya dan yang disembelih untuk berhala”
(QS Al Maidah : 3)

Inilah perwujudan firman Allah di dalam surat Al Maidah ayat 3:

“Hari ini telah aku sempurnakan bagi kamu agamamu, dan Aku telah cukupkan nikmatKu kepadamu dan Aku telah ridha Islam sebagai agamamu”

Imam Malik berkaitan dengan ayat ini mengatakan “apa-apa yang pada waktu itu (pada waktu turunnya ayat ini) bukan merupakan bagian dari agama Islam maka pada hari ini pun bukan merupakan bagian dari agama.

Sehingga ketika Allah menghalalkan suatu perkara kemudian ada seseorang yang mengharamkannya maka tidaklah boleh kita mengikuti hal tersebut. Demikian pula sebaliknya. Rasul kita mengajarkan

“Tidak ada ketaatan terhadap seseorang dalam hal kemaksiatan kepada Sang pencipta (Al Kholiq )” (HR. Ahmad)

Kalau kita tetap mengikutinya, maka nasib kita tidak jauh berbeda dengan orang-orang yahudi dan nasrani yang menjadikan Pendeta dan rahibnya sebagai sesembahan selain Allah.

Bingung !? Itulah sikap yang tengah menggejala di tengah masyarakat kita. Beragam problem seakan bertubi-tubi menimpa umat Islam di Indonesia.

Kemarin MUI (Majelis Ulama Indonesia) menfatwakan haramnya ajinomoto. Hari ini seorang yang lain menghalalkannya. Kalaupun yang memfatwakan halalnya itu adalah pejabat biasa, tentu tak menjadi persoalan. Permasalahan menjadi berkembang ketika yang berbicara adalah seorang yang merupakan tokoh agama di negeri ini, dan bahkan diulama’kan oleh masyarakat.

Terus manakah yang benar dari kedua pendapat tersebut dan bagaimana kita mesti bersikap terhadap hal tersebut ? Permasalahan lain yang tengah berkembang adalah mencuatnya berbagai kerusuhan dan pemboman, yang itu diidentikkan dengan umat islam sehingga laris lagu-lagu lama yang selalu diputar “Islam adalah terorisme”. Belum lagi krisis di negeri ini yang belum jua berakhir. Bagaimana kita mesti bersikap menurut tinjauan syariat ?

Mengenai masalah ajinomoto, dalam hal ini mereka yang menghalalkan dengan didukung oleh beberapa pakar sains berargumen ajinomoto tetap halal karena produk akhir MSG yang dihasilkan sama sekali tidak bermuatan babi. Unsur babi berupa enzim porycin yang diambil dari pankreas babi dalam proses pembuatan hanya berfungsi sebagai katalis (Mempercepat reaksi tanpa ikut serta dalam produk akhirnya). Sehingga kesimpulannya ajinomoto halal.

Alasan yang dikemukakan oleh mereka yang menghalalkan memiliki banyak kelemahan. Mereka yang menghalalkan, mampukah mereka menjamin 100 % bahwa pembuatan ajimoto tersebut lepas dari unsur babi ? Bahkan pihak ajinomoto sendiri setelah MUI memfatwakan haramnya, segera menarik produknya dari pasaran, sehingga ini pun menunjukkan bahwa sebenarnya mereka pun mengiyakan.

Pernyataan menghalalkan sendiri nampaknya tak lepas dari unsur politis, yaitu mempertahankan nilai keuntungan yang didapat negara dari pihak ajinomoto. Sebuah hal yang lebih tegas bagi kita adalah, apabila ada yang mengharamkan dan ada pula yang menghalalkan maka yang terbaik bagi kita adalah meninggalkannya

“Sesungguhnya yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan diantara keduanya ada perkara-perkara yang samar(syubhat) Maka barangsiapa yang menghindar dari syubhat maka ia telah menjaga agama dan kehormatannya dan barangsiapa yang terjatuh ke dalam syubhat maka telah terjerumus dalam keharaman” (HR Bukhari dan Muslim)

Sehingga paling tidak ajinomoto adalah perkara yang syubhat yang semestinya kita tinggalkan.

“Tinggalkan apa-apa yang meragukan bagi kalian kepada hal-hal yang tidak eragukan.”
(HR. Tirmidzi dan Nasai disahihkan oleh Al albani)

Tentang masalah pemboman tempat-tempat ibadah orang nashara, dan juga fasilitas-fasilitas umum, maka hal ini tidaklah dapat dibenarkan dengan beberapa alasan :

Allah memerintahkan kita untuk berbuat adil dan ihsan (baik). Penghancuran fasilitas umum dan tempat ibadah orang nashara tidak diperbolehkan bahkan dalam medan perang sekalipun. Dengan perkecualian, apabila ada maslahat (kebaikan) yang jelas. Contohnya seperti menghancurkan fasilitas umum yang dimiliki oleh musuh yang digunakan mereka untuk mempertahankan diri (bila tidak dihancurkan mengokohkan kekuatan musuh).
Belum pasti yang terbunuh dalam pemboman tersebut orang kafir semuanya. Bisa jadi mereka yang muslim yang berada tak jauh dari lokasi tersebut terkena dampak bom dan ikut terbunuh.
Menimbulkan mafsadat (kerusakan) yang lebih besar, seperti terhalangnya dakwah dan dipersempitnya gerak dakwah Islam
Islam sangat mengenal “Jihad” namun tidak kenal dengan kata “Terorisme”. Apa beda keduanya ? Jihad dalam Islam memiliki aturan-aturan yang jelas dan mulia, serta penuh dengan muatan-muatan adab. Contohnya pasukan yang berjihad tidak boleh membunuh wanita, anak-anak dan orang tua dalam pertempuran bahkan merusak atau membunuh tumbuhan-pun tanpa keperluan yang jelas, dilarang ! Adapun terorisme tidak kenal dengan kaidah dan aturan yang mengatur, sehingga ngawur dan membuat kebencian manusia terhadap ajaran Islam.

Sedangkan menyikapi berbagai macam krisis yang terjadi di negara ini, kerusuhan dan kemaksiatan yang meraja-lela maka solusi yang pasti adalah kembali mengamalkan ajaran islam secara komprehensif (menyeluruh). Dengan memulai belajar tentang apa itu islam dan aturan yang ada di dalamnya kemudian mengamalkan dalam kehidupan. Bagi para ulama umat maka semestinya ikhlas dalam berdakwah dan hendaknya mereka mengajak manusia ke jalan Allah ta’ala. Para pemimpin pun hendaknya bertaqwa kepada Allah dalam mengurusi permasalahan kaum muslimin, karena sesungguhnya mereka akan dimintai pertanggungjawaban atas kepemimpinannya.

Wallahu a’lam bish showab

_________________________________

Disarikan dari wawancara team Al Madina dengan Ustadz kholid Syamhudi, Lc. Alumnus Universitas Islam Madinah

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: