LEMBARAN DUKA DI BULAN RAMADHAN

LEMBARAN DUKA DI BULAN RAMADHAN

Duka Keluarga Syuhada Palestina

Ramadhan terasa hampa tahun ini, ingin rasanya aku tertidur lalu terbangun setelah hari-harinya berlalu, aku tak tahu bagaimana berkumpul bersama anak-anak di tengah meja makan tanpa didampingi ayah mereka, siapa yang akan membelikan mereka kembang api untuk bermain yang dulu selalu dibelikan oleh ayah mereka”.
Dengan air mata berlinang dan kesedihan yang mendalam, Ny.Alfat ar-Raziyah, 26 tahun mengungapkan rasa dukanya menyambut datangnya bulan suci Ramadhan tanpa didampingi sang suami tercinta yang telah pergi ke hadhirat ilahi sebagai syuhada, setelah setahun yang lalu suami pertamanya pun syahid.

Sambil mengusap air mata yang belum lagi kering setelah berpisah dengan suami keduanya, Usman yang kini syahid, Ar-raziyah melanjutkan: “Ramadhan tahun ini telah membuka kembali luka lamaku semenjak Ayman, suami pertamaku terbunuh pada pertengahan Ramadhan tahun 1996 lalu, walaupun aku bersuaha untuk mengobatinya. Aku akan berdiam di rumah bersama kelima anakku yang kini harus menjadi yatim untuk kedua kalinya, agar mereka tidak menyaksikan anak-anak lain bersukaria bersama orang tua mereka dengan membawa lampu-lampu Ramadhan dan kembang api untuk bermain.” Sambil mengusap air mata yang menetes, ia berkata: “Usman masih bersama kami di rumah ini, jiwanya telah menjadi bagian hidup kami, karena itu kami biarkan tempat duduknya kosong agar bayang-bayangnya duduk di tempat itu”. Namun iapun segera mengobati duka hatinya: “Satu-satunya kesabaranku, bahwa Ramadhan adalah bulan ibadah, aku akan manfaatkan untuk pergi ke masjid, mendengarkan ceramah dan nasehat agar luka ini menjadi ringan. Aku senantiasa memohon kepada Allah agar menjadikan bulan yang mulia ini penawar duka hati ini”.

Ramadhan Tanpa Kue

Perasaan yang sama dirasakan oleh Hajah Ummu Ibrahim Barud (60 tahun). Kesedihan yang mendalam menyelimuti dirinya, karena jauh dari anaknya Ibrahim yang kini mendekam di dalam penjara selama 16 tahun. Selama satu tahun tentara Israel melarangnya mengunjungi putranya, namun ia berusaha menahan air matanya mengalir. Sambil menarik nafasnya, ia berkata, “Sejak 16 tahun tak ada kue yang dibuat di rumah ini, aku tak lagi membuatkan kue untuk anak-anak hingga Ibrahim keluar dari penjara, alhamdulillah, merekapun dapat memahami hal ini. Ia meneruskan: “Walaupun Ramadhan bulan ibadah dan penuh berkah, namun ia membuka kembali luka hati ini yang tak da=pat dihapus oleh lamanya masa, apalagi disaat berbuka, saat dimana para keluarga berkumpul bersama anggotanya, namun kini bangku-bangku duduk di meja makan menjadi kosong setelah Ibrahim tiada dan saudaranya dibunuh tentara Israel dan ayah mereka juga telah wafat.” Walaupun duka kesedihan nampak menyelimuti dirinya, namun ia tetap bersabar, ia berkata: “Alhamdulillah, keadaan kami lebih baik dari keluarga lainnya, rumah kami tidak hancur dan kami tidak terusir dari tempat tinggal kami”.

Kesedihan dan duka yang mendalam bukan saja dirasakan para keluarga syuhada Palestina yang telah kehilangan anggota keluarga mereka, namun juga dirasakan para anak-anak intifadhah yang terluka akibat serangan tentara Israel, semua kesedihan mereka menyambut datangnya bulan Ramadhan harus ditambah dengan kesulitan ekonomi yang dirasakan.

Terhalang melaksanakan taraweh

Nashir ar-Razi, 16 tahun yang lumpuh dan kini hanya duduk di atas kursi goyang, berusaha tersenyum walau tampak penderitaan yang ia rasakan di tubuhnya yang kurus, ia berkata: “Yah, kini Ramdhan telah tiba dan saya tak lagi bisa bermain bersama teman-teman seperti dulu, bahkan untuk melaksanakan shalat taraweh, padahal saya ingin sekali melaksanakannya”.

Akibat musibah yang ia alami saat melakukan aksi intifadhah, kini ia tinggal bersama 14 orang saudaranya berhimpitan di dalam sebuah rumah berukuran 80 meter persegi, mengisyaratkan bahwa saudara-saudaranya selalu membantu mengantarkannya ke sekolah dengan sabar meski menempuh perjalanan yang sulit ditambah datangnya musim panas. Kondisi inilah yang tidak mungkin bagi saudara-saudaranya mengajaknya keluar untuk bermain bersama teman-teman merayakan kegembiraan bulan Ramadhan.

Dengan bahasa air mata

Yasir Abu Rayas, 14 tahun, menderita kelumpuhan di seluruh tubuhnya, kami terdiam cukup lama dan mencoba menarik ucapan keluar dari bibirnya, namun air mata yang berlinang telah menahan keluarnya ucapan dari bibirnya, akhirnya kamipun mencoba mengajaknya berbicara dengan bahasa air mata untuk membaca luka dan kesedihan yang dalam menyelimuti jiwanya, lebih pedih dari luka yang terdapat di tubuhnya. Ayah Yasir yang kini tak lagi bekerja karena Israel menutup tempat kerjanya semenjak aksi intifadhah berkata: “Yaser tertembak di lehernya tatkala melakukan aksi intifadhah di dekat pintu Salahuddin, kondisinya saat itu sangat memprihatinkan, lalu kami membawanya ke Yordan, akhirnya sekarang keadaannya seperti ini”.

Ayah Yasir menjelaskan bagaimana kesulitan hidup ia hadapi bersama keluarganya, ia tidak tahu apa yang ia lakukan pada bulan Ramadhan tahun ini. Sambil memandang ke delapan anaknya yang masih kecil-kecil, bahkan yang tertua belum mencapai usia baligh, ia berkata: “Saya tidak tahu, semoga Allah memudahkan hidup ini, agar Ramadhan ini berlalu penuh kebaikan”. Inilah miniatur derita hidup yang dilalui oleh lebih dari 720 keluarga syuhada, dan 31449 mereka yang terluka yang diantara mereka sekitar 517 orang mengalami lumpuh serta ratusan orang yang kehilangan rumah-rumah mereka dan sumber kehidupan mereka.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: