Urgensi Kekuatan Ruhiyah

Urgensi Kekuatan Ruhiyah

Secara umum, diri manusia terbagi kepada dua bagian: Jasad dan ruh. Keberadaan ruh sangat menentukan hidup-matinya jasad manusia. Tidak berfungsinya anggota badan manusia secara total (mati) adalah karena dicabutnya ruh dalam dirinya. Namun sering kita saksikan bahwa pembinaan ruhiyah kurang mendapat perhatian.

Sementara pemenuhan terhadap kebutuhan jasmaniah yang bersifat materi, dengan berbagai cara berusaha dipenuhi walaupun itu di luar kemampuan. Tanpa bekal kekuatan ruhiyah, hal ini dapat mengakibatkan seseorang melakukan perbuatan-perbuatan amoral, korupsi, kolusi, dan nepotisme negatif. Pada umumnya mereka mudah terpengaruh oleh lingkungan sekitarnya dan mudah tergoyahkan oleh desakan-desakan kebutuhan materi.

Seorang pemimpin yang memiliki kekuatan ruhiyah yang cukup memadai, karena sering dilatih, dengan segera ia akan melihat kondisi rakyatnya yang sedang ditimpa musibah. Mengunjungi mereka, merasakan penderitaannya, sambil memberikan bantuan serta solusi pemecahan atas penderitaan masyarakat yang dipimpinnya.

Umar bin Khattab pernah meneteskan air matanya ketika melihat keadaan seorang ibu yang pada malam itu (ketika Khalifah Umar sedang mengadakan inspeksi malam hendak melihat kondisi sebenarnya masyarakat yang dipimpinnya) pura-pura memasak untuk menenangkan anak-anaknya yang terus menangis menahan lapar. Padahal dalam kuali tersebut hanyalah berisi batu. Menyaksikan hal demikian, sang khalifah langsung menuju gudang (sejenis Bulog) mengambil sekarung gandum. Masya Allah, dengan tangan dan pundaknya sendiri, beliau membawa sekarung gandum tersebut untuk diberikan kepada sang ibu tadi.

Ada beberapa kiat dalam rangka melatih kekuatan ruhiyah dalam diri kita. Pertama, tajarrud ‘anid dunya. Mulai saat ini, pandangan hidup kita terhadap materi keduniaan harus diubah secara total. Bahwa materi keduniaan (harta benda dan kedudukan/jabatan) hanyalah alat untuk mencapai tujuan, bukan tujuan akhir. Sehingga kita tidak menghalalkan segala cara untuk memenuhi setiap keinginan. Kedua, senantiasa menjaga diri agar tetap berada di jalan kebenaran yang telah ditetapkan Allah dan Rasul-Nya serta waspada terhadap godaan-godaan menggiurkan yang dapat memalingkan dari jalan-Nya.

Ketiga, memerangi syetan dengan segala tipu dayanya. Imam Al-Ghazali menempatkan syetan sebagai musuh utama manusia dalam beribadah mendekatkan diri kepada Allah SWT. Syetan akan selalu menggoda manusia dengan berbagai tipu dayanya. Oleh karena itu, Allah memerintahkan kepada hamba-Nya agar senantiasa berlindung dari godaan syetan yang terkutuk.

Keempat, membiasakan diri bangun di tengah malam mengerjakan shalat malam dan berpuasa pada siang harinya. Kelima, sering bergaul dengan masyarakat –terutama masyarakat bawah– sehingga dengan sendirinya dapat merasakan penderitaan mereka. Dan berusaha dengan sekuat tenaga turut meringankan beban yang mereka alami. Wallahu a’lam bi ash-shawab.

Iklan

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: